Jumat, 28 Oktober 2016

tafsir kontemporer





Tafsir al-Aisar


Makalah


Tugas ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah


“pemikiran tafsir kontemporer”


Dosen Pendamping :


Dr. Ahmad Zainal Abidin, MA



 


Disusun oleh :


1.      Lutfiyatul Maslikhah  (2831133025)


 
Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir 6-A


Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah


InstitutAgama Islam Negeri


(IAIN) Tulungagung


Mei 2016
















KATA PENGANTAR



Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya kepada kita semua. Sholawat serta  salam  mari kita haturkan kepada pahlawan revolusioner dunia yakni Nabi Muhammad SAW dan semoga kita akan selalu mendapat syafaatnya baik didunia maupun di akhirat kelak.


Dengan pertolongan dan hidayahNya penulis dapat  menyusun makalah ini untuk memenuhi  tugas mata kuliah“pemikiran tafsir kontemporer” yang berjudul“tafsir al-Aisar”


Kami menyadari tanpa bantuan dari berbagai pihak maka penulisan makalah ini tidak mungkin terlaksana dengan baik.Oleh karena itu penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada :


1.      Bapak Dr. Mafthukin, M.Ag. selaku rektor IAIN Tulungagung yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk dapat menimba ilmu di IAIN Tulungagung ini.


2.      Bapak Dr. Ahmad Zainal Abidin, MA Selaku Dosen pengampu matakuliah yang juga telah membimbing kami dan mengarahkan kami agar pemahaman yang kami peroleh tidak salah dan menyimpang.


3.      Semua pihak yang telah membantu terselesainya penyusunan makalah ini.


Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun demi lebih sempurnanya makalah yang akan datang. Semoga dengan terselesaikannya makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya dan membuahkan ilmu yang bermanfaat maslahah fiiddinni wadunya walakhirah.




Tulungagung, Mei  2016


Penyusun





DAFTAR ISI


COVER................................................................................................................................. 1


KATA PENGANTAR.......................................................................................................... 2


DAFTAR ISI......................................................................................................................... 3


BAB I  PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah............................................................................................ 4


B.     Rumusan Masalah...................................................................................................... 4


C.     Tujuan Pembahasan Masalah..................................................................................... 4


BAB II  PEMBAHASAN


A.    Biografi Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri........................................................................... 5


B.     kitab Tafsir  al-Aisar ( aisarut tafasir)........................................................................ 6


C.     Metode dan corak tafsir al-Aisar ...............................................................................            7


D.    Contoh penafsiran ..................................................................................................... 8


BAB III PENUTUP


Kesimpulan...................................................................................................................... 10


DAFTAR RUJUKAN........................................................................................................... 10


























BAB I


PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang


                 Kebutuhan umat Islam dalam hal memahami Al-Qur`an Al-Karim merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat terhindarkan selama dalam hidupnya, karena Kitabullah sebagai pedoman hidup manusia disamping As-Sunnah Nabawiyah. Memahami Al-Qur`an lalu diamalkan adalah perintah agama, namun dalam memahami kitabullah ini diharuskan berpegang kepada kaedah-kaedah penafsiran baku yang ditetapkan oleh Shalafus Shalih. Dalam realita masyarakat muslim, terdapatnya sekelompok kaum muslimin dalam menafsirkan Al-Qur`an. Mereka mendahulukan akal (rasio) dari pada nash-nash yang shahih. Ketika ayat-ayat Al-Qur`an atau pun As-Sunnah berlawanan dengan akal, maka didahulukan akal dari pada ayat-ayat Al-Qur`an.


                 Penafsiran Al-Qur`an yang bersandar pada akal dari pada nash-nash shahih sudah merambah luas pada era sekarang, disamping penafsiran Al-Qur`an lainnya yang tidak berpijak pada manhaj Ahlus Sunnah. Maka dari itu, kita membutuhkan tafsir Al-Qur`an Al-Karim yang sesuai dengan manhaj Ahlus Sunnah, suatu tafsir yang diridha'i  oleh Allah Ta'ala dan Rasul-Nya.  Berdasar pada hal ini maka dalam makalah ini akan di bahas tentang kitab tafsir yang dapat memenuhi kebutuhan umat islam dalam memahami al-Qur’an, yaitu kitab karya Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri yakni tafsir al-Aisar. 


B.     Rumusan Masalah


1.      Bagaimana metode dan corak penafsiran dari kitab tafsir al-Aisar ?


2.      Apa saja kelebihan dari kitab tafsir al-Aisar ?


C.     Tujuan Pembahasan


1.      Untuk mengetahui metode dan corak penafsiran dari kitab tafsir al-Aisar.


2.      Untuk mengetahui kelebihan dari kitab tafsir al-Aisar.










BAB II


PEMBAHASAN


A.    Biografi Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri[1]


            Syeikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi ialah seorang ulama hadis yang zuhud. Beliau dilahirkan di Algeria pada tahun 1342 H/1921 M. Ketika umurnya lebih kurang satu tahun, ayahnya telah meninggal dunia. Ibunya seorang yang soleh yang unggul dalam mendidik anak berdasarkan panduan Islam. Beliau belajar al-Quran ketika beliau masih kanak-kanak saat umurnya dua belas tahun. Beliau selesai awal pendidikan di rumah, kemudian dipindahkan ke ibu kota Algeria dan bekerja sebagai seorang guru di sebuah sekolah. Selama masa itu, beliau menghadiri pelajaran oleh At-Tayyab Abu Qir dan telah mendapat penerangan-penerangan dengan cahaya kepercayaan dalam tauhid dan sunnah Nabi saw. Beliau juga menghafal matan kitab, ilmu lughah dan fiqh Maliki kemudian beliau melanjutkan pelajarannya ke kota lainnya sampai kemudian belajar di Madinah di Masjid Nabawi dan Makkah sehingga mendapat pengakuan (ijazah) dari para masyaikh di sana.


            Diantara gurunya dinegerinya iaitu Syeikh Nu’aim An-Nu’aimi, Syeikh Isa Mu’tauqi dan Syaikh Thayib Al-Uqbi, sedangkan di Madinah ialah Syeikh Umar Bari, Syeikh Muhammad Al-Hafiz, Syeikh Muhammad Khoyal dan selainnya. Ketika penjajahan Perancis dimulai pada tahun 1952, beliau pindah ke Madinah. Raja Saud bin Abdul Aziz adalah penguasa saat itu dan Universiti Islam Madinah yang telah dibina. Beliau pertama kali bekerja sebagai seorang guru di Madinah, kemudian ia bergabung dengan Universiti Madinah dan mengajar di sana iaitu di Darul Hadis Madinah hingga bersara. Beliau juga bekerja sebagai penasihat di beberapa lembaga berkaitan dengan dunia muslim selama waktu itu.


Ø  Karya Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri[2]


1.      Rasa’il al-Jaza’iri (mencakup 23 risalah yang membahas tentang Islam dan Dakwah)


2.      Minhajul Muslim (kitab tentang aqidah, adab, akhlak, ibadah, dan mu’amalat)


3.      Aqidatul Mu’min (memuat dasar-dasar aqidah seorang mukmin)


4.      Aisarut Tafasir li Kalamil ‘Aliyil Kabir


5.      Al-Mar’ah al-Muslimah


6.      Ad-Daulah al-Islamiyah


7.      Adh-Dharuriyyat al-Fiqhiyyah (yaitu risalah dalam fiqh Maliki)


8.      Hadza al-Habib Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam –Ya Muhibb fis Sirah (kitab tentang sirah nabi shallallahu ‘alaihi wasallam)


9.      Kamalul Ummah fi Shalahi Aqidatiha


B.     Tentang kitab Tafsir  al-Aisar ( aisarut tafasir)


            Tafsīr al-Aisar ini di tulis oleh seorang ulama hadits Madinah yaitu Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, yang berupaya menafsirkan al-Qur’an  sesuai dengan pemahaman Ṣalafuṣ Ṣalih, suatu kitab tafsir yang diharapkan memudahkan kaum muslimin dalam memahami ayat-ayat yang terkandung dalam al-Qur’an, sebagaimana namanya “al-Aisar” (yang termudah).Yang menggabungkan antara arti yang dimaksud dalam firman Allah Taala dengan uraian-uraian bahasa yang mudah, sehingga kalangan awam pun dapat dengan mudah memahaminya.
 Oleh karena itu beliau dalam menyusun kitab tafsirnya dalam bentuk pelajaran yang berkesinambungan dan saling terkait, menjelaskan kata-katanya secara literal, menjelaskan maknanya secara global, kemudian yang terakhir dalam penafsirannya menyebutkan satu persatu pelajaran yang dapat diambil dan diamalkannya.[3] Kitab Tafsir Al-Aisar menggunakan sistematika penafsiran yang khas, menjelaskan makna kata per kata secara literal dan diakhiri dengan fawaid (pelajaran/manfaat) yang dapat dipetik dari masing-masing ayat tersebut.  Sebagaimana namanya Al-Aisar yang berarti “yang termudah”, tafsir ini ditujukan untuk menjadi sebuah buku tafsir yang mudah dipahami.


            Keistimewaan tafsir al-Aisar adalah sebagai berikut :


1.      Berukuran sedang, tidak terlalu ringkas yang dapat mengurangi pemahaman, dan tidak terlalu panjang agar pembaca tidak bosan dalam membacanya.


2.      Konsisten untuk tidak keluar dari empat madzhab (Hanafi, Syafii, Hambali, Hanafi) dalam masalah-masalah fikih.


3.      Bersih dari tafsir isra‟iliyyat (kisah-kisah yang berasal dari orang Yahudi), baik yang shahih maupun yang lemah, kecuali yang menjadi tuntutan pemahaman ayat, dan memang diperbolehkan untuk meriwayatkannya.


4.      Mengesampingkan perbedaan-perbedaan pendapat dalam penafsirannya.


5.      Memudahkan muslimin untuk mempelajari, mengamalkan al-Qur‟an dan menjauhkan dari pengamalan yang sekedar wacana dan perdebatan.


C.     Metode dan corak tafsir al-Aisar


1.      Metode tafsir al-Aisar


      Metode tafsir yang digunakan oleh Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi adalah metode ijmali (global), secara lughawi, kata al-Ijmali berarti ringkasan, ikhtisar, global, dan penjumlahan.[4] Dengan demikian maka yang dimaksud dengan al-Ijmali ialah menafsirkan ayat-ayat al-Qur‟an secara singkat dan global, dengan menjelaskan makna yang dimaksud pada setiap kalimat dengan bahasa yang ringkas sehingga mudah dipahami. Sebenarnya metode ini mempunyai kesamaan dengan metode tahlili, yaitu menafsirkan ayat-ayat al-Qur‟an berdasarkan urut-urutan ayat, sebagaimana urutan dalam mushaf. Walaupun ada persamaan terdapat juga perbedaan antara metode tahlili dengan metode ijmali. Metode ijmali makna ayatnya yang diungkapkan secara global dan ringkas, sedangkan dalam metode tahlili, makna ayatnya yang diuraikan secara terinci dengan tinjauan dari berbagai segi dan aspek yang diulas secara panjang lebar. Dalam metode ijmali dapat menggunakan ilmu-ilmu bantu seperti menggunakan hadits-hadits Nabi SAW, pendapat kaum salaf, peristiwa sejarah, asbab al-Nuzul, dan kaidah-kaidah bahasa.[5]


Ø  Langkah-langkah yang digunakan dalam metode penafsirannya adalah sebagai berikut :[6]


a.       Menjelaskan  kalimah demi kalimah secara literal menurut kaedah bahasa 'Arab.


b.      Menafsirkan ayat secara global dengan menghubungkan satu ayat dengan ayat lainnya.


c.       Penafsiran dikuatkan dengan hadis-hadis dan atsar-atsar (riwayat yang bersandarkan kepada penafsiran para sahabat). Sebahagian besar penjelasan disertakan nota kaki yang baik sebagai rujukan sumber dan penjelasan yang lebih terperinci.


d.      setiap ayat -ayat penafsiran di akhiri dengan pengajaran-pengajaran yang dapat diambil dari ayat tersebut.


2.      Corak tafsir al-Aisar


      Tafsīr al-Aisar karya Abu Bakar Jabir al-Jazairi lebih cenderung bercorak bi al-Ma‟tsur yaitu penafsiran ayat dengan ayat, penafsiran ayat dengan hadits Nabi, yang menjelaskan makna sebagian ayat yang dirasa sulit dipahami oleh sahabat, atau penafsiran ayat dengan hasil ijtihad para tabiin.[7] Semakin jauh rentang zaman dari masa Nabi dan sahabatnya, maka pemahaman umat tentang makna ayat-ayat al-Qur‟an semakin bervariasi dan berkembang.[8] Tafsīr bil al-Ma‟tsur pada dasarnya menampilkan penjelasan terhadap ayat-ayat al-Qur‟‟an yang diambil dari sumber-sumber tradisional Islam yang secara hirarkis diurutkan mulai dari al-Qur‟an, hadist Nabi SAW, atsar sahabat, dan aqwal tabiin. Sesungguhnya Tafsīr bi al-Ma‟tsur memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan diunggulkan posisinya, tapi tidak berarti kitab-kitab Tafsīr bi al-Ma‟tsur terlepas dari berbagai kelemahan. Sekurang-kurangnya menyangkut hal-hal tertentu ketika dihubungkan dengan tafsir al-Qur‟an yang diwarisi dari sahabat dan tabiin.


D.    Contoh penafsiran


            Disini penulis mencoba memaparkan contoh dari penafsiran tafsir al-Aisar dengan mengambil penafsirannya dalam ayat-ayat tentang lingkungan hidup .


QS. Al-Baqarah : 11


#sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% öNßgs9 Ÿw (#rßÅ¡øÿè? Îû ÇÚöF{$# (#þqä9$s% $yJ¯RÎ) ß`øtwU šcqßsÎ=óÁãB ÇÊÊÈ  


Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". mereka menjawab: "Sesungguhnya Kami orang-orang yang Mengadakan perbaikan."[9]




            Allah memberitahukan tentang salah satu karakter orang-orang munafik, bahwa ketika ada orang yang beriman berkata kepada mereka, “Janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi, dengan melakukan kemunafikan dan bersikap loyal terhadap orang-orang Yahudi dan orang-orang kafir”. Maka mereka menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah ingin membuat perbaikan”.[10] Maka Allah menolak pengakuan bohong mereka itu dan menegaskan bahwasannya merekalah yang sesungguhnya membuat kerusakan, bukan orang yang beriman yang berani menentang mereka. Akan tetapi, sayang sekali orang-orang munafik tidak menyadari hal itu di karenakan kekafiran mereka yang sudah menguasai hati sanubari mereka. Pelajaran yang dapat diambil dari ayat tersebut adalah mencela pengakuan yang dusta, yang biasanya merupakan karakter orang-orang munafik. Membuat perbaikan di bumi adalah dengan beramal, berupa taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan, membuat kerusakan di bumi merupakan hal yang sangat durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.












































BAB III


KESIMPULAN


            Tafsīr al-Aisar ini di tulis Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, yang berupaya menafsirkan al-Qur’an  sesuai dengan pemahaman Ṣalafuṣ Ṣalih, suatu kitab tafsir yang diharapkan memudahkan kaum muslimin dalam memahami ayat-ayat yang terkandung dalam al-Qur‟an, sebagaimana namanya “al-Aisar” (yang termudah).


            Metode tafsir yang digunakan oleh Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi adalah metode ijmali (global), secara lughawi, kata al-Ijmali berarti ringkasan, ikhtisar, global, dan penjumlahan, dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut : 1. )Menjelaskan  kalimah demi kalimah secara literal menurut kaedah bahasa 'Arab. 2.) Menafsirkan ayat secara global dengan menghubungkan satu ayat dengan ayat lainnya.


3.)Penafsiran dikuatkan dengan hadis-hadis dan atsar-atsar (riwayat yang bersandarkan kepada penafsiran para sahabat).  4.)Sebahagian besar penjelasan disertakan nota kaki yang baik sebagai rujukan sumber dan penjelasan yang lebih terperinci. Tafsīr al-Aisar karya Abu Bakar Jabir al-Jazairi lebih cenderung bercorak bi al-Ma‟tsur yaitu penafsiran ayat dengan ayat, penafsiran ayat dengan hadits Nabi, yang menjelaskan makna sebagian ayat yang dirasa sulit dipahami oleh sahabat, atau penafsiran ayat dengan hasil ijtihad para tabiin.




DAFTAR PUSTAKA


            al-Farmawi Abd. al-Hayy, Metode Tafsir Mawdhu‟iy, (Jakarta: PT Raja Grafindo              Persada, 1994)


            http://syeevaulfa.blogspot.co.id/2015/02/tafsir-aisar-al-tafasir.html, di akses pada :                         24/05/2016 / pukul /11 : 20



            http://alsofwah.or.id/cetaktokoh.php?id=153/9-3-15,di akses pada : 24/05/2016,pukul                    15:39


            Ichwan Nur Mohammad, Tafsir „Ilmiy, (Jogjakarta: Penerbit Menara Kudus Jogja,                        2004)


            Ichwan Nur Muhammad, Memasuki Dunia Al-Qur‟an, (Semarang: Lubuk Raya                            Semarang, 2001)


            Suma Amin Muhammad, Ulumul Qur‟an, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013)


           


            Syaikh Al-Jazairi Jabir Abu Bakar, Tafīir Al-Qur‟an al-Aisar jilid I, (Jakarta: Darus                        Sunnah: 2008)


            Yayasan penyelenggara Penterjemah/Pentafsir, al-Qur‟an dan Terjemahnya,                                 Departemen Agama, 1986


           








                [1] http://tamanulama.blogspot.co.id/2009/12/syeikh-abu-bakar-jabir-al-jazairi-ulama.html, di akses pada : 24/05/2016, pukul  12:31


                [2] http://alsofwah.or.id/cetaktokoh.php?id=153/9-3-15,di akses pada : 24/05/2016,pukul 15:39


                [3] Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Tafīir Al-Qur‟an al-Aisar jilid I, (Jakarta: Darus Sunnah: 2008), hlm. XX


                [4] Muhammad Amin Suma, Ulumul Qur‟an, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), hlm. 381


                [5] Mohammad Nur Ichwan, Tafsir „Ilmiy, (Jogjakarta: Penerbit Menara Kudus Jogja, 2004), hlm. 119


                [6] http://syeevaulfa.blogspot.co.id/2015/02/tafsir-aisar-al-tafasir.html, di akses pada : 24/05/2016 / pukul /11 : 20


                [7] Muhammad Nur Ichwan, Memasuki Dunia Al-Qur‟an, (Semarang: Lubuk Raya Semarang, 2001), hlm. 168


                [8] Abd. al-Hayy al-Farmawi, Metode Tafsir Mawdhu‟iy, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994), hlm. 13


                [9]   Yayasan penyelenggara Penterjemah/Pentafsir, al-Qur‟an dan Terjemahnya, Departemen Agama, 1986, hlm. 3


                [10] Ucapan mereka, “Kami ingin membuat perbaikan”. Pada prinsipnya tidak tercela. Tetapi yang membuat tercela di sini, karena kondisi riil mereka membuat kerusakan itu, tetapi mereka malah mengaku berbuat kebaikan. Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, ibid., jilid 1, hlm. 57